Sejarah Dinar dan Dirham Sebagai Alat Transaksi Umat Islam

Dinar dan dirham adalah uang (money) yang terbuat dari emas dan perak. Dalam sejarahnya, penggunaan koin emas dan perak sebagai alat transaksi jual beli sudah dikenal lama oleh penduduk Mekkah jauh sebelum Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan. Dinar emas dan dirham perak ini pada mulanya dibawa oleh bangsa Romawi dan bangsa Persia yang telah menjalin hubungan perdagangan dengan bangsa Arab. Kata dinar sendiri berasal dari bahasa Romawi, yakni denarius, sedangkan dirham berasal dari bahasa Persia, yakni drachma. Meskipun sebenarnya bangsa Arab telah mengenal mata uang Yaman, namun penggunaan uang dinar dan dirham dari Romawi dan Persia lebih banyak digunakan sebagai alat transaksi dan perdagangan.

Sejarah penggunaan dinar dan dirham dipasar arab
Sejarah Perdagangan bangsa Arab dengan Romawi dan Persia

Transaksi menggunakan dinar dan dirham terus berlanjut bahkan sampai datangnya islam ke Mekkah, namun pada kala itu dinar dan dirham yang beredar memang bukan milik bangsa arab sendiri, belum dicetak sendiri dan tidak memiliki bentuk ukiran yang melambangkan bahwa dinar tersebut adalah milik bangsa Arab. Juga ukuran koin yang beredar pun masih berbeda-beda, belum ada standar baku dan nilainya diukur berdasarkan berat dan kadarnya. Adapun orang yang bertugas sebagai pengukur nilai dinar dan dirham sudah ada, dan memang mereka bertanggung jawab untuk megidentifikasi berat dan kadar pula menuliskan asal dari dikeluarkannya dinar dan dirham tersebut.



Sejarah Dinar dan Dirham dalam Peradaban Islam


1. Masa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam

Bangsa Arab di Hijaz pada masa Jahiliyah tidak memiliki mata uang (currency) tersendiri. Mereka menggunakan mata uang yang mereka peroleh berupa Dinar emas Hercules, Byziantum dan Dirham perak Dinasti Sasanid dari Iraq, dan sebagian mata uang bangsa Himyar, Yaman. Penduduk Mekkah tidak memperjualbelikannya kecuali sebagai emas yang tidak ditempa, dan tidak menerimanya kecuali dalam ukuran timbangan. Mereka tidak menerima dalam jumlah bilangan. Hal itu disebabkan beragamnya bentuk dirham dan ukurannya dan munculnya penipuan pada mata uang mereka seperti nilai tertera yang melebihi dari nilai yang sebenarnya.

Ketika Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam diutus sebagai Nabi dan Rasul, beliau menetapkan apa yang sudah menjadi tradisi penduduk Mekkah, dan beliau memerintahkan penduduk Madinah untuk mengikuti ukuran timbangan penduduk Mekkah. Ketika itu mereka masih berinteraksi ekonomi menggunakan dirham dalam jumlah bilangan bukan ukuran timbangan.
Beliau bersabda :
“Timbangan adalah timbangan penduduk Makkah, sedang takaran adalah takaran penduduk Madinah.”
Sebab munculnya perintah itu adalah perbedaan ukuran dirham Persia karena terdapat tiga bentuk cetakan uang, yakni:
  1. Ada yang ukurannya 20 qirath,
  2. Ada yang ukurannya 12 karat,
  3. Ada yang ukurannya 10 karat.
Lalu ditetapkanlah dalam dirham Islam menjadi 14 karat dengan mengambil sepertiga dari semua dirham Persia yang ada. 20 + 12 + 10 = 42 / 3 = 14, sama dengan 6 daniq (bahasa Yunani yakni dua butir uir-uir belalang). Setiap daniq seukuran 7 mitsqal (mitsqal dalam ukuran sekarang adalah gram). Demikian Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam juga mempunyai peranan dalam masalah keuangan, yaitu menentukan ukuran timbangannya.

Dinar Romawi Bergambar Salib
Dinar Romawi (Terdapat Simbol Salib)

Meskipun di dalam dinar terdapat inskripsi yang berisi ungkapan-ungkapan tentang trinitas dan di dalam dirham terdapat gambar Kisra (raja) Persia, Rasulullah saw tetap memberlakukannya selain sebagai alat tukar dan juga sebagai standar dalam pelaksanaan syariah Islam, antara lain untuk nishab zakat mal, standar pemberlakuan hukum potong tangan bagi pencuri, dan sebagainya. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tidak mengubah mata uang dan sepanjang masa kenabian, kaum Muslim terus menggunakan mata uang asing dalam interaksi ekonomi mereka.

2. Masa Khulafa’ Ar-Rasyidin

        2.1. Dimasa Abu Bakar As-Shiddiq diangkat sebagai khalifah, bentuk uang belum ada perubahan, dan masih sama dengan masa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Hal ini disebabkan karena masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq reatif singkat dan banyak juga perkara yang harus ditangani. Perkara-perkara tersebut antara lain adalah memerangi orang murtad dan orang-orang yang enggan untuk membayar zakat. Abu Bakar berkomitmen tegas untuk memerangi orang-orang yang enggan membayar Zakat.

        2.2. Dimasa kekhalifahan Umar Bin Khattab sudah mulai dilakukan perubahan-perubahan terhadap mata uang yang digunakan oleh umat Islam. Namun perubahan yang terjadi lebih banyak berkaitan dengan dirham (uang perak). Pada awalnya dirham hanya berupa fulus perunggu yang dicetak dengan menggunakan aksara Arab di setiap sisinya. Setelah itu, barulah Khalifah Umar ra melakukan hal-hal penting dalam masalah uang, antara lain:
  1. Percetakan uang dirham dengan ciri-ciri keislaman. Bentuk uang dirham Islam pertama ini hampir sama dengan dirham Persia. Hanya saja terdapat tulisan tambahan seperti “Alhamdulillah”, “Muhammad Rasulullah”, “Laa ilaha illa Allah wahdahu” dan juga nama khalifah “Umar”. Sebab dicetaknya uang dirham ini karena pada masa itu aktivitas perdagangan berkembang semakin luas seiring dengan semakin meluasnya wilayah Islam.
  2. Ditetapkannya standar kadar dirham dan dikaitkannya standar tersebut dengan kaitan pada masa itu beredar berbagai jenis dirham dengan takaran yang bereda-beda pula. Ada yang menyebutnya dengan takaran dawaniq, misalnya dirham Al-Baghaly sebesar 8 dawaniq, dirham al-Thabary sebesar 4 dawaniq. Ada pula yang menggunakan istilah mistqal yang artinya 1 dirham adalah 1 mistqal. Takaran mistqal pun berbeda-beda, ada yang menyatakan 20 qirad, 12 qirad, 10 qirad, dan lain-lain. Atas segala perbedaan tersebut, Khalifah Umar membuat kebijakan dengan melihat pada apa yang berlaku di tengah masyarakat baik takaran yang rendah maupun takaran yang tinggi. Sehingga Khalifah Umar menetapkan standar dirham yang dikaitkan dengan dinar, yaitu 1 dirham sama dengan 7/10 dinar, atau setara dengan 2,97 gram dengan landasan standar dinar 4,25 gram emas. Standar inilah yang kemudian berlaku secara baku dalam landasan syar’i.
  3. Ada usaha Khalifah Umar untuk membuat uang dengan bentuk lain, yaitu dengan menggunakan bahan dasar kulit hewan (kambing). Pemikiran ini terjadi karena Khalifah Umar menganggap bahwa uang kulit reatif lebih mudah untuk dibawa sehingga memudahkan untuk melakukan kegiatan transaksi. Hal tersebut dipicu dengan keadaan perekonomian yang semakin membaik seiring dengan meluasnya wilayah Islam. Namun hal ini diurungkan, karena banyaknya sahabat yang tidak menyetujui dengan pertimbangan bahwa bahan kulit tidak dapat dijadikan standar of value karena harga kulit berfluktuasi seiring dengan fluktuasi harga binatang itu sendiri, yang mengikuti harga perkembangan pasar. Selain itu, juga karena sifat dasar kulit sendiri yang mudah rusak sehingga tidak aman jika digunakan sebagai alat tukar yang sah.
Khalifah Umar pun menetapkan standar koin dinar dan dirham. Berat 7 dinar sama dengan 10 dirham. Standar dinar emas yakni memakai kadar emas 22 karat dengan berat 4,25 gram. Sedangkan dirham harus menggunakan perak murni seberat 3,0 gram. Keputusan ini telah ditetapkan pula dengan para ulama pada masa itu.

        2.3. Di masa kekhalifahan Utsman Bin Affan perkembangan yang penting adalah dicetaknya uang dinar dan dirham baru dengan memodifikasi uang dinar Persia dan ditulis simbol-simbol Islam. Diriwayatkan bahwa dinar yang beredar pada masa tersebut memiliki motif Islam di satu sisi, dan disisi lain terdapat motif asli Persia (penggabungan dari unsur keislaman dan unsur asal muasal dinar maupun dirham tersebut). Di mana di dalam uang dinar tersebut terdapat tulisan “Allahhu Akbar”. Ada pula yang meriwayatkan bahwa dirham di masa ini di satu sisi bergambar Croeses ke II yang dipahat bersama dengan kota asalnya, dengan tanggal dan aksara Persia. Di batas koin juga terdapat kata-kata dalam aksara Kuffi, yang artinya “Rahmat, dengan asma Allah, dengan asma Tuhanku, bagi Allah, Muhammad”. Sejauh ini dinar belum ada yang dicetak khusus sesuai dengan berinisial Islam saja.

        2.4. Dimasa kekhalifahan Ali Bin Abi Thalib, tidak ada perubahan yang dilakukan dalam pengelolaan mata uang, beliau mencetak dirham mengikuti model Khalifah Utsman bin Affan dan menuliskan di lingkarannya salah satu kalimat Bismillah, Bismillah Rabbi, dan Rabiyallah dengan jenis tulisan Kufi. Nilai uang dinar dan dirham masih ditentukan oleh beratnya. Dinar mengandung emas murni dan terdiri atas pecahan setengah dinar dan sepertiga dinar. Pecahan yang kecil didapat dengan memotong koin dinar. Imam Ali misalnya, pernah membeli daging dengan memotong dua karat dari dinar (Hadits Riwayat Abu Daud). Dirham terdiri dari beberapa pecahan nash (20 dirham), nawat (5 dirham), dan sha’ira 1/60 dirham.

3. Masa Dinasti Umayyah

        3.1. Pada zaman kekhalifahan Islam Mu’awiyah bin Abu Sufyan (tahun 41-60 Hijriyah) pencetakan uang masih meneruskan model Sasanid dengan menambahkan beberapa kata tauhid seperti halnya pada masa Khulafaur Rasyidin. Pada masa ini umat Islam telah mempunyai percetakan dinar dan dirham sendiri, namun dinar cetakan Byzantine masih tetap dipergunakan.

        3.2. Bishri bin Marwan ( 72-74 H) mencetak mata uang yang disebut Atawiyya. Sampai dengan zaman ini mata uang khilafah beredar bersama dengan dinar Romawi, dirham Persia dan sedikit Himyarite Yaman.

        3.3. Pada masa khalifah Abdul Malik bin Marwan, setelah mengalahkan Abdullah bin Zubair dan Mush’ab bin Zubair, beliau menyatukan tempat percetakan. Pada tahun 76 H beliau membuat mata uang Islam yang bernafaskan model Islam tersendiri, tidak ada lagi ciri khas atau tanda Byzantium atau Persia. Dengan demikian, Abdul Malik bin Marwan adalah orang yang pertama kali mencetak dinar dan dirham dalam model Islam tersendiri. Baru pada masa ini pemerintah mendirikan tempat percetakan uang, antara lain di Dara’bjarb, Suq Ahwaz, Sus, Jay dan Manadar, Maysan, Ray dan Abarqubadh, dan mata uang khilafah dicetak secara terorganisasi dengan kontrol pemerintah, dan mata uang asing selain dinar dan dirham cetakan Islam tidak diperbolehkan lagi untuk beredar.

Koin dinar Umayyah dibuat dari emas murni yang ditambang di situs barat laut tempat yang sekarang disebut Mekah di Arab Saudi

Pemberantasan pemalsuan dan pengetatan terus berlanjut pada masa Yazid bin Abdul Malik dan Hisyam bin Abdul Malik. Bahkan Hisyam pernah memeriksa dirham dan mengetahui ukurannya kurang satu butir. Beliau menghukum pembuatnya dengan 1000 cambuk, dan mereka berjumlah 100 orang sehingga beliau menghukum dalam tiap satu butir dengan 100.000 kali cambuk. Begitulah akhirnya Dinar masa Umawiyah terkenal halus, akurat, dan murni. Sebagai bukti kemajuan dalam perkembangan uang.

4. Masa Dinasti Abbasiyah

Pada masa Abbasiyah, pencetakan dinar masih melanjutkan cara Dinasti Umawiyah. Al-Saffah mencetak dinarnya yang pertama pada awal berdirinya Dinasti Abbasiyah tahun 132 H mengikuti model dinar Umawiyah dan tidak mengubah sedikitpun kecuali pada ukiran-ukiran.

Dinar abbasiyah
Dinar Abbasiyah

Sedangkan dirham, pada awalnya ia kurangi satu butir kemudian dua butir. Pengurangan ukuran dirham terus berlanjut pada masa Abu Ja’far al-Manshur, dia mengurangi tiga butir hingga pada masa Musa al-Hadi kurangnya mencapai satu karat (qirath). Dinar pun tidak seperti adanya, pengurangan terjadi setelah itu. Namun begitu, nilainya dihitung seperti semula.
Al-Maqrizy berkata: “Pada bulan Rajab tahun 191 H, dinar Hasyimiah mengalami pengurangan sebanyak setengah butir dan hal itu terus berlanjut sepanjang periode tapi masih berlaku seperti semula.”
Pada masa Dinasti Fathimiyah, dirham-dirham campuran sangat banyak menyebabkan harganya turun, sehingga pada masa al-Hakim bin Amrillah, harga 1 dinar sama dengan 34 dirham, padahal perbandingan asli antara dinar dan dirham adalah 1:10.

5. Masa Dinasti Ayyubiyyah

Pada masa Shalahuddin al-Ayyubi Rahimahullah, bahan baku emas tidak cukup untuk pencetakan dinar disebabkan berbagai peperangan. Karena itu, mata uang utama adalah perak dan tidak juga murni, bahkan separuhnya adalah tembaga. Pencetakan uang dalam bentuk ini terus berlanjut di Mesir dan Syam (Syiria) sepanjang masa pemerintahan Bani Ayyub.

Sejarah Dinar Dirham pada masa kesultanan Shalahuddin al-Ayyubi
Ilustrasi : Sultan Shalahuddin al-Ayyubi

6. Masa Dinasti Mamalik (Mamluk)

Pada masa pemerintahan Mamalik, pencetakan uang tembaga (fulus) tersebar luas. Pada masa pemerintahan Raja al-Zhahir Barquq dan anaknya Farj, uang tembaga menjadi mata uang utama, dan pencetakan dirham dihentikan karena beberapa sebab, yakni:
  1. Penjualan perak ke negara-negara Eropa.
  2. Impor tembaga dari negara-negara Eropa yang semakin bertambah akibat dari peningkatan produksi pertambangan di sebagian besar wilayah Eropa.
  3. Meningkatnya konsumsi perak untuk pembuatan pelana dan bejana.
Namun uang tembaga tidak selamanya menjadi mata uang utama bahkan kembali kepada fungsinya yang pertama sebagai mata uang bantu. Pada masa Sultan Muayyad, uang logam digunakan untuk barang-barang murah. Sedangkan mata uang utama adalah dirham perak dan dinamakan Dirham Muayyad.

7. Masa Dinasti Utsmani / Ottoman

Pada masa Dinasti Ottoman, sistem keuangan resmi Utsmaniyah tahun 955 H/1534 M, berdasarkan pada dua barang tambang, emas dan perak dengan perbandingan 1:15.

Sejarah Dinar Kesultanan Utsmaniyah Turki
Kesultanan Turki Utsmaniyah

Pada tahun 1839 pemerintah Utsmaniyah menerbitkan mata uang yang berbentuk kertas Banknote dengan nama Gaima, namun nilainya terus merosot sehingga rakyat tidak mempercayainya.

Pada Perang Dunia I tahun 1914, Turki seperti negara-negara lainnya memberlakukan uang kertas sebagai uang yang sah dan membatalkan berlakunya emas dan perak sebagai mata uang. Sejak itulah mulai diberlakukan uang kertas sebagai satu-satunya mata uang di seluruh dunia.

Wallahu a'lam bish-shawabi.

Download aplikasi emas paydinar di google playstore, atau klik link dibawah:
Aplikasi Tabungan Emas Syariah Paydinar
Aplikasi Tabungan Emas Paydinar

Baca juga :